Sabtu, 10 Desember 2011

Teori Bialystok dalam Pemerolehan Bahasa kedua


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Pemerolehan bahasa adalah proses-proses yang berlaku di dalam otak seorang anak ketika memperoleh bahasa ibunya. Proses-proses ketika anak sedang memperoleh bahasa ibunya terdiri dari dua aspek: pertama aspek performance yang terdiri dari aspek-aspek pemahaman dan pelahiran , kedua aspek kompetensi. Kedua jenis proses ini berlainan. Proses-proses pemahaman melibatkan kemampuan mengamati atau kemampuan mempersepsi kalimat-kalimat yang didengar sedangkan proses pelahiran melibatkan kemampuan melahirkan atau mengucapkan kalimat-kalimat sendiri. Kedua kemampuan ini apabila telah betul-betul dikuasai seorang anak akan menjadi kemampuan linguistiknya. Kemampuan ini terdiri dari tiga komponen, yaitu: kemampuan pemerolehan fonologi, semantik dan kalimat. Ketiga komponen ini diperoleh anak secara serentak atau bersamaan.
Pembelajaran bahasa menyangkut proses-proses yang berlaku pada masa seseorang sedang mempelajari bahasa baru setelah ia selesai memperoleh bahasa ibunya.. Dengan kata lain pemerolehan bahasa melibatkan bahasa pertama sedangkan pembelajaran bahasa melibatkan bahasa kedua atau bahasa asing.

1.2 Batasan Masalah
Agar masalah penelitian lebih fokus kepada tujuan penelitian dan tidak terlalu luas, maka penulis membatasi masalah penelitian hanya pada ruang lingkup tentang “Studi Pemerolehan Bahasa kedua dan teori Bialystok dalam Pemerolehan Bahasa kedua

1.3 Tujuan
Berdasarkan latar belakang, serta batasan masalah yang diajukan diatas maka secara umum penelitian ini bertujuan:
1.Untuk menjelaskan Pengertian Pemerolehan Bahasa dan Pemerolehan Bahasa kedua
2.Menjelaskan tentan Ruang Lingkup Studi Pemerolehan Bahasa Kedua.
1.Menjelaskan Bagaimana Teori Bialystok dalam Pemerolehan Bahasa kedua.

BAB II
PEMBAHASAN


2.1. Pengertian Pemerolehan Bahasa Kedua
Pemerolehan bahasa (bahasa Inggris: language acquisition) adalah proses manusia mendapatkan kemampuan untuk menangkap, menghasilkan, dan menggunakan kata untuk pemahaman dan komunikasi. Kapasitas ini melibatkan berbagai kemampuan seperti sintaksis,fonetik, dan kosakata yang luas. Bahasa yang diperoleh bisa berupa vokal seperti pada bahasa lisan atau manual seperti pada bahasa isyarat. Pemerolehan bahasa biasanya merujuk pada pemerolehan bahasa pertama yang mengkaji pemerolehan anak terhadap bahasa ibumereka dan bukan pemerolehan bahasa kedua yang mengkaji pemerolehan bahasa tambahan oleh anak-anak atau orang dewasa.
  • Perolehan bahasa yaitu, pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi mesin/motor, sosial, dan kognitif pra-linguistik (McCraw, 1987 : 570).
  • Pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya.
  • Yang dimaksud pemerolehan bahasa kedua adalah saat seseorang memperoleh sebuah bahasa lain setelah terlebih dahulu ia menguasai batas tertentu B1.
  • Istilah pemerolehan bahasa dipakai untuk membahas penguasaan bahasa pertama di kalangan anak-anak karena proses tersebut terjadi tanpa sadar, sedangkan pemerolehan bahasa kedua (Second Language Learning) dilaksanakan dengan sadar.

2.2 Ruang Lingkup Studi Pemerolehan Bahasa Kedua.
Yang dimaksud dengan bahasa kedua adalah bahasa yang tidak diperoleh seseorang secara wajar dari kecil (M.F. Baradja, 1990:21). Pemerolehan bahasa kedua diartikan dengan mengajar dan belajar bahasa asing dan atau bahasa kedua lainnya (Henry Guntur Tarigan, 1988:125). Seperti yang telah dikemukakan di depan, bahasa kedua yang paling utama yang diajarkan di sekolah di Indonesia adalah bahasa Inggris.
Belajar bahasa kedua (bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Jepang, bahasa Mandarin, dan sebagainya) pada umumnya dilakukan secara formal, yaitu di kelas bersama seorang guru dengan menggunakan buku teks tertentu. Menurut Henry Guntur Tarigan (1988: 125-126), terdapat tiga faktor mendasar dalam proses belajar bahasa kedua, yaitu belajar bahasa adalah orang, belajar bahasa adalah orang-orang dalam interaksi dinamis, dan belajar bahasa adalah orang-orang dalam responsi.
Hakikat belajar bahasa kedua tidak sama dengan belajar bahasa pertama. Belajar bahasa pertama berangkat dari “nol” (pembelajar belum menguasai bahasa apa pun) dan perkembangan pemerolehan bahasa ini berjalan seiring dengan perkembangan fisik dan psikisnya. Proses belajar bahasa kedua, si pembelajar sudah menguasai bahasa pertama dengan baik dan perkembangan pemerolehan bahasa kedua tidak seiring dengan perkembangan fisik dan psikisnya. Pemerolehan bahasa pertama dilakukan secara informal dengan motivasi yang sangat tinggi karena pembelajar sangat memerlukan bahasa pertama ini untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, sedangkan pemerolehan bahasa kedua dikerjakan secara formal dengan motivasi yang tidak terlalu tinggi.

2.3 Teori Bialystok dalam Pemerolehan Bahasa kedua.
Studi peran pengajaran dapat menerangkan kontribusi faktor lingkungan dalam Pemerolehan Bahasa Kedua. Lingkungan kelas memberikan jenis input berbeda dari keadaan alami. Jika faktor lingkungan merupakan hal penting bagi Pemerolehan Bahasa Kedua, mungkin dapat diprediksi bahwa (1) jalan kemahiran dalam dua keadaan akan berbeda, dan (2) penilaian/kesuksesan Pemerolehan Bahasa Kedua dalam dua keadaan juga akan berbeda. Peneliti telah mengulas dalam bab yang lalu menunjukkan bahwa (1) sementara tidak muncul, (2) mungkin saja. Kesalahan keadaan kelas untuk mempengaruhi jalan Pemerolehan Bahasa Kedua dapat dijelaskan dalam dua cara. Pertama, mungkin diambil untuk menunjukkan bahwa determinan sebenarnya dari Pemerolehan Bahasa Kedua adalah internal pelajar lebih daripada faktor lingkungan. Maka, disamping perbedaan dalam input, pelajar bahasa kedua akan mengikuti jalan yang sama karena ia diprogram untuk hal yang sama. Penjelasan kedua membolehkan peran lebih sentral untuk input/interaksi untuk dipertahankan. Kelas Pemerolehan Bahasa Kedua dan Pemerolehan Bahasa Kedua alami mengikuti garis perkembangan yang sama, karena, meskipun terdapat perbedaan dalam jenis input yang ditemukan dalam setiap keadaan, juga terdapat kesamaan. Rangkaian alami merupakan produk satu jenis penggunaan bahasa-komunikasi spontan-yang, meskipun terbatas dalam konteks kelas, tetapi terjadi. Penjelasan pertama mengikuti interpretasi penutur asli dari Pemerolehan Bahasa Kedua, penjelasan kedua mengikuti interpretasi interaksi (lihat bab 6). Jelas, apapun interpretasi yang diadopsi, hal itu bahwa Pemerolehan Bahasa Kedua menguasai sifat struktural yang bebas pada perbedaan inhern lingkungan dalam kelas dan keadaan alami. Pengaruh faktor lingkungan nampak membatasi sebagian besar untuk sejauh apa dan berapa banyak perolehan bahasa kedua bagi pelajar.

Pedagogy Bahasa

Melihat pengajaran dari sudit pandang pelajar lebih daripada pengajar adalah bermanfaat. Hal itu melihat kedalam perspektif secara luas yang memandang bahwa pengajaran berdasar pada bunyi silabus dan melibatkan teknik motivasi, hasil berupa pemerolehan. Kecuali jika laporan yang diambil tentang sifat struktural Pemerolehan Bahasa Kedua, kesuksesan bukanlah hal yang pasti.
Namun, tidaklah mudah untuk sampai pada rekomendasi kuat berdasar pada hasil riset Pemerolehan Bahasa Kedua. Seperti yang ditulis Hughes (1983: 1-2) :
Harus dikatakan pada permulaan bahwa pada saat kini terdapat beberapa implikasi yang jelas untuk menggambarkan perihal mengajarkan bahasa dari studi pengajaran bahasa kedua.
Sikap berdiam diri dilakukan untuk dua alasan. Pertama, harus dikenal bahwa mengajarkan tidaklah sama seperti mempelajari. Dalam pemikiran program mengajarkan jelas bermaksud pada pemahaman bagaimana pelajar belajar, tapi itu juga perlu untuk diambil kedalam faktor non-pelajar. Brumfit (1984), misalnya, menunjuk bahwa walaupun jika pelajar mengikuti jalur tetap, guru mungkin tidak merasa berkeawjiban meyakinklan bahwa pengajarannya juga mengikutinya, sepertinya jauh lebih penting bahaw guru bekerja dari silabus yang secara logis dia terima. Brumfit berargumen bahaw pengajaran bahasa akan paling berhasil saat mengikuti rencana yang terpecahkan dengan baik yang mengarah dan mengorganisir apa yang guru kerjakan. Alasan kedua untuk berdiam diri adalah, meskipun terdapat tingkat persetujuan antara peneliti Pemerolehan Bahasa Kedua menyangkut apa yang terjadi dalam Pemerolehan Bahasa Kedua. Terdapat jauh lebih sedikit persetujuan tentang bagaimana hal itu terjadi dalam cara tersebut. Hal ini menjadi jelas dalam perbedaan posisi yang telah diadopsi untuk menjelaskan hasil riset kedalam efek pengajaran formal. Namun, walaupun bijaksana untuk bersifat sementara dalam mencari implikasi pedagogi bahasa dari riset Pemerolehan Bahasa Kedua, tetapi cukup bodoh untuk mengabaikan secara keseluruhan riset ini. Seperti catatan Corder (1980: 1), ‘kita selalu memiliki kewajiban untuk berusaha menjawab pertanyaan praktis dalam menerangkan pengetahuan umum terbaik’.
Hanya satu isu yang dipertimbangkan disini – apa yang dikemukakan Stern (1983) sebagai dilema kode-komunikasi  dalam pedagogi bahasa. pertanyaan kunci adalah seperti : pada tingkat apa seharusnya pengajaran diarahkan untuk meningkatkan kesadaran pelajar tentang sifat formal bahasa kedua, sebagai lawan untuk menyediakan peluang bagi mereka untuk terlibat dalam komunikasi alami? Ini merupakan isu kontroversial. Satu sisi terdapat pendukung apa yang Widdowson (1984: 23) sebut ‘pendidikan murni……dan ia dihubungkan dengan serba membolehkan non-intervensi’. Disisi lain terdapat mereka yang berargumen bahwa mengajar pelajar menjadi analitis memperbesar perkembangan. Saya harus menyingkat sikap apa pada diema kode komunikasi yang dipegang pendukung masing-masing ketiga posisi mempertimbangkan dalam bab sebelumnya.

1. Posisi non-interface
Krashen (1982) memberikan penekanan pada peran pengajaran tatabahasa dalam kelas Pemerolehan Bahasa Kedua. Ia melihat hanya dua penggunaan. Pertama, memfungsikan monitor untuk menyediakan ‘pembelajaran’. Namun, penggunaan monitor terbatas pada saat pelajar ‘belajar’ mengakses pengetahuannya, dan juga terbatas dengan fakta bahwa hanya sebagian kecil sub-bab dari total aturan bahasa kedua ‘dapat dipelajari’. Kedua, penggunaan pelajaran tatabahasa untuk memuaskan keingintahuan pelajar tentang sistem tatabahasa bahasa kedua-‘apresiasi tatabahasa’, sebagaimana yang disebut Krashen. Krashen (1982) menyimpulkan :
Penggunaan tatabahasa secara sadar adalah terbatas. Tidak semua orang  memonitor. Mereka hanya memonitor sebagian dari waktunya dan menggunakan monitor hanya untuk sub-bagian tatabahasa…efek koreksi pribadi pada ketepatan merupakan hal yang sederhana. Pelaku bahasa kedua secara khas mengoreksi diri hanya dalam persentase kecil kesalahannya, bahkan saat dengan sengaja terfokus pada bentuk…….dan bahkan saat kita hanya memikirkan aspek termudah dari tatabahasa. (1982: 112)

Krashen, lebih lanjut, percaya bahwa peran pengajaran adalah membuka kesempatan untuk berkomunikasi, lebih baik dari menggambarkan perhatian melalui kode bahasa kedua. Krashen (1981b) merinci penjelasan karakteristik tentang apa yang dipertimbangkan tentang program efektif pedagogikal : (1) input kelas harus dapat dimengerti; (2) program harus terdiri dari ‘aktifitas komunikatif’, untuk menjamin bahwa input menarik dan relevan; (3) selayaknya tidak mencoba mengikuti rentetan program tatabahasa; dan (4) input harus cukup banyak (karenanya penting untuk membaca secara luas). Krashen dan Terrell (1983) menguraikan secara singkat sebuah program yang sesuai untuk prinip ini, yang disebut ‘pendekatan alamiah’

2. Posisi Interface
Sedangkan posisi non interface menegaskan arti penting komunikasi dan memperkecil arti penting kode, posisi interface menyatakan kontribusi tentang kode. Sharwood-Smith (1981) melihat pengajaran tatabahasa sebagai jalan pintas pada kemampuan komunikasi. Maka, pelajar dewasa yang memiliki perhatian menarik menuju fitur kode dapat berlatih disini, diluar ataupun didalam kelas, sampai dapat menggunakannya tanpa sadar didalam bertutur komunikasi. Sharwood-Smith menegaskan bahwa pengajaran tatabahasa (atau ‘peningkatan kesadaran’) dapat bermacam-macam bentuk. Ia membedakan dua dimensi dasar : ketelitian (contohnya apakah pengajaran hanya menawarkan uraan ringkas atau penjelasan yang sangat terstruktur.

3. Posisi Variabilitas
Posisi variabilitas menekankan arti penting kesesuaian proses belajar dengan jenis pengajaran. Bialystok (1982: 2005) berkomentar :
“……pengajaran harus mempertimbangkan tujuan khusus pelajar dan mencoba untuk menyediakan bentuk pengetahuan yang sesuai untuk mencapai tujuan itu”.
Tujuan tersebut mengacu pada jenis bahasa yang digunakan bahwa pembelajar membutuhkan (atau menginginkan) untuk terlibat di dalamnya. Jika tujuan mengikutsertakan percakapan natural, maka pembelajar harus mengembangkan gaya vernacular (bahasa daerah) nya dengan memperoleh pengetahuan bahasa kedua yang otomatis tetapi  tidak diteliti. Hal ini dapat dicapai secara langsung atas pertolongan pengajaran yang menekankan komunikasi di dalam kelas. Hal ini juga mungkin dicapai secara tidak langsung oleh pengajaran yang memfokuskan pada kode, jika terdapat peluang praktis yang memadai untuk memacu jalan pengetahuan dari kehati-hatian menuju gaya sehari-hari. Jika tujuan pelajar adalah untuk berpartisipasi dalam percakapan yang membutuhkan kehati-hatian, perencanaan secara sadar, ia akan butuh mengembangkan gaya secara hati-hati dengan memperoleh pengetahuan bahasa kedua yang otomatis dan teranalisis. Hal ini dapat secara terbaik terpenuhi dengan pengajaran formal yang memusatkan pada kode bahasa kedua.

Sama halnya, itu bukanlah mungkin untuk membuat pilihan terbatas seperti posisi mana yang ditawarkan penjelasan terbaik dari hasil riset empiris kedalam kelas Pemerolehan Bahasa Kedua, jadi itu akan prematur untuk menempatkan solusi pada dilema kode-komunikasi dalam pedagogi bahasa. Namun, satu efek studi secara umum telah memberi kesan bahwa mengajarkan kode mungkin memainkan bagian kecil daripada pemikiran sebelumnya. Seperti ang ditunjukkan Coder (1980), kesan seperti ini berada dalam kesesuaian dengan arah pengajaran saat ini. Riset Pemerolehan Bahasa Kedua, kemudian, mungkin terlihat sebagai penguatan trend yang telah ada, lebih daripada bantahan-bantahan pendekatan baru.


BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Pemerolehan bahasa adalah proses manusia mendapatkan kemampuan untuk menangkap, menghasilkan, dan menggunakan kata untuk pemahaman dan komunikasi. Kapasitas ini melibatkan berbagai kemampuan seperti sintaksis, fonetik, dan kosakata yang luas. Bahasa yang diperoleh bisa berupa vokal seperti pada bahasa lisan atau manual seperti pada bahasa isyarat. Pemerolehan bahasa biasanya merujuk pada pemerolehan bahasa pertama yang mengkaji pemerolehan anak terhadap bahasa ibu mereka dan bukan pemerolehan bahasa kedua yang mengkaji pemerolehan bahasa tambahan oleh anak-anak atau orang dewasa. Pembelajaran bahasa menyangkut proses-proses yang berlaku pada masa seseorang sedang mempelajari bahasa baru setelah ia selesai memperoleh bahasa ibunya.. Dengan kata lain pemerolehan bahasa melibatkan bahasa pertama sedangkan pembelajaran bahasa melibatkan bahasa kedua atau bahasa asing.

3.2 Saran
Setelah penjelasan dalam makalah ini, sebagai manusia bisa penulis memohon maaf apabila terjadi kesalahan dalam penjabaran masalah atau penyimpangan-penyimpangannya. Penulis menerima saran yang sifatnya membangun untuk kesempurnaan dalam penulisan makalah selanjutnya. Atas segala pengertiannya penulis mengucapkan terimaksih.


DAFTAR PUSTAKA

Ellis, Rod, ed. 1987. Second Language Acquisition in Context. London: Prentice HallInternational Ltd (UK).

Krashen, Stephen D. 2002. Second Language Acquisition and Second Language Learning. California: Pergamon Press.

Lambert, Wallace E. 1972. Language, Psychology, and Culture. California: Stanford University Press.

Safriandi. 2008. Pemerolehan Bahasa Pertama. Dtanggal 14 April 2009 pada http://nahulinguistik.wordpress.com/2009/04/14/pemerolehan-bahasa-pertama/.

http://www.scribd.com/doc

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar